Just another free Blogger theme

"Ajar ilmu saking kamardikaning ati" di BLOGNYA Mas Tri Adi Susanto CGP 08

KEGIATAN PENDIDIKAN GURU PENGGERAK

  • Lokakarya
  • Pendampingan Individu

Rabu, 16 Agustus 2023

JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN MODUL 2.2

Pembelajaran Sosial dan Emosional

RABU, 16 AGUSTUS 2023

 Salam dan Bahagia,

Saya sangat bersyukur karena bisa sampai tahap mempelajari Modul 2.2 tentang Pembelajaran Sosial dan Emosional. Persentase dalam LMS mencapai  60% sehingga sudah lebih dari setengah jalan dalam menyelesaikan PGP angkatan 8 ini. Jurnal refleksi Dwimingguan Modul 2.2 Pembelajaran Sosial dan Emosional ini saya tulis sebagai media untuk mendokumentasikan mengenai perasaan, gagasan dan pengalaman serta praktik baik yang saya dilakukan. Pengalaman dalam mengikuti Pendidikan Guru Penggerak (PGP) merupakan pengalaman yang berharga bagi saya, dimana saya dapat mempelajari, mempraktikan, dan berbagi praktik baik kepada rekan guru di sekolah maupun sekolah lain.

Saya mencoba merefleksikan aktivitas pembelajaran di modul 2.2 ini baik melalui Learning Management System (LMS) maupun kegiatan di luar LMS. Dengan Model 4F (Facts, Feelings, Findings, Future), pada refleksi dwimingguan kali ini, hasil refleksi dapat saya deskripsikan sebagai berikut:

Lanjut membaca .... buka di link berikut: 

Jurnal Refleksi Dwi-Mingguan Modul 2.2 

Senin, 14 Agustus 2023

Koneksi Antar Materi - Modul 2.2

Durasi : 2 JP

Moda : Penugasan Mandiri

Tujuan Pembelajaran Khusus: CGP melakukan refleksi pengetahuan sebelum, selama, dan sesudah mempelajari modul ini

Pertanyaan Pemantik untuk Sesi Pembelajaran ini:

  • Apa kesimpulan tentang perubahan pengetahuan, keterampilan, sikap sebagai pemimpin pembelajaran setelah mempelajari pembelajaran sosial dan emosional?
  • Apa kaitan pembelajaran sosial dan emosional yang telah anda pelajari dengan modul-modul sebelumnya?

CGP merumuskan kesimpulan dari proses pembelajaran yang sudah dijalani dalam modul ini dengan tetap mengkaitkan dengan modul-modul sebelumnya.

Pertanyaan refleksi:

Silakan jawab pertanyaan di bawah ini dengan menyelami pengalaman dan  pemahaman Anda hingga tahap ini.

  1. Sebelum mempelajari modul ini, saya berpikir bahwa …… sehingga…..
    Setelah mempelajari modul ini, ternyata ………….
  2. Berkaitan dengan kebutuhan belajar dan lingkungan yang aman dan nyaman untuk memfasilitasi seluruh individu di sekolah agar dapat meningkatkan kompetensi akademik maupun kesejahteraan psikologis (well-being),  3 hal mendasar dan penting yang saya pelajari adalah:
  3. Berkaitan dengan no 2, perubahan yang akan saya terapkan di  kelas dan sekolah:
    1. bagi murid-murid:
    2. bagi rekan sejawat:
Hasil refleksi saya:

Sebelum mempelajari modul ini, saya berpikir bahwa Pembelajaran Sosial dan Emosional (PSE) ini hanya dapat dilakukan oleh guru bimbingan konseling saja. Saya menyadari setelah mempelajari modul ini, ternyata PSE sangat diperlukan oleh semua guru karena sangat dibutuhkan oleh setiap warga sekolah dan lingkungannya. Hal ini saya mulai dari diri saya sendiri. PSE dilakukan secara kolaboratif oleh seluruh komunitas sekolah. Untuk itu memungkinkan anak dan orang dewasa di sekolah memperoleh dan menerapkan pengetahuan, keterampilan dan sikap positif mengenai aspek sosial dan emosional agar dapat tercipta 5 KSE. yaitu: 

  1. Kesadaran Diri;
  2. Manajemenaran Diri;
  3. Kesadaran Sosial;
  4. Keterampilan Berelasi; dan,
  5. Pengambilan Keputusan yang Bertanggung Jawab.

Untuk melihat kesimpulan dan keterkaitan materi ini dengan modul sebelumnya silakan disimak di link berikut ini:

Hasil Kesimpulan dan Keterkaitan Materi ini dengan Modul sebelumnya



 Ruang Kolaborasi - Modul 2.2

Kamis, 10 Agustus 2023
“Ada kekuatan luar biasa ketika sekelompok orang dengan minat yang sama berkumpul untuk bekerja menuju tujuan yang sama.” 

(Idowu Koyenikan)

Durasi:  3 JP
Moda : Presentasi

Tujuan Pembelajaran Khusus:  Menguraikan bentuk penerapan pembelajaran 5 kompetensi sosial-emosional sesuai dengan  jenjang  pendidikan masing -masing.

Setelah melakukan analisis dan menyusun 5 ide implementasi pembelajaran 5 KSE dan 2 ide penguatan KSE untuk rekap PTK di sekolah dengan karakteristik jenjang pendidikan yang diampu, dan setelah disikusikan bersama kelompok 2 yang dituangkan pada tabel 3.1 dan tabel 3.2, selanjutnya, CGP bertemu dengan fasilitator dalam kelompok besar dalam ruang virtual yang telah disediakan untuk mempresentasikan tabel yang telah dibuat tadi, dan masing-masing kelompok saling mencermati hasil tabel 3.1 dan tabel 3.2 milik kelompok lain. 



Kegiatan akan diakhiri oleh fasilitator dengan menutup pembelajaran dan memberikan tugas selanjutnya untuk CGP yaitu berupa refleksi pembelajaran.

Presentasi kelompok 2 mengenai bentuk penerapan pembelajaran 5 kompetensi sosial-emosional sesuai dengan  jenjang  pendidikan sekolah dasar kelas 3-6.

Bahan Presentasi Kelompok 2_Tabel 3.1 dan 3.2




 Koneksi Antar Materi - Modul 2.1

Pembelajaran Berdiferensiasi

“Semua pengetahuan terhubung ke semua pengetahuan lainnya. Yang menyenangkan adalah membuat koneksinya.”

(Arthur Aufderheide)

Durasi : 2 JP
Moda: Penugasan Mandiri secara asinkron

Tujuan Pembelajaran Khusus: :

CGP dapat membuat sintesa pemahaman dengan mengkoneksikan semua materi yang telah dipelajari sebelumnya untuk menjelaskan pemahamannya tentang pembelajaran berdiferensiasi dan bagaimana mengimplementasikannya.

Tagihan pada sesi pembelajaran ini adalah:

Lakukanlah refleksi secara individu terhadap perjalanan pembelajaran Anda hingga saat ini dengan merespon beberapa pertanyaan dan tugas berikut ini.

  • Buatlah kesimpulan tentang apa yang dimaksud dengan pembelajaran berdiferensiasi dan bagaimana hal ini dapat dilakukan di kelas.
  • Jelaskan bagaimana pembelajaran berdiferensiasi dapat memenuhi kebutuhan belajar murid dan membantu mencapai hasil belajar yang optimal. Jelaskan pula bagaimana Anda melihat kaitan antara materi dalam modul ini dengan modul lain di Program Pendidikan Guru Penggerak.
  • Tuangkan kesimpulan yang Anda buat tersebut dengan menggunakan cara atau media yang dapat Anda pilih sendiri. Anda dapat memilih menulis artikel, membuat infografik, vlogging (video blogging), dsb.
  • Unggahlah hasil kerja Anda pada kegiatan ini

Koneksi antarmateri Modul 2.1_Pembelajran Berdiferensiasi



Elaborasi Pemahaman - Modul 2.1

Rabu, 2 Agustus 2023

Tugas Refleksi Terbimbing

Saya memiliki pertanyaan terkait dengan memenuhi kebutuhan belajar murid melalui pembelajaran berdiferensiasi  sebagai berikut:

"Dengan pembelajaran berdiferensiasi, bolehkan guru memberikan peringkat kelas sebagai bentuk apresiasi dan penghargaan kepada siswa yang memiliki prestasi atau kemampuan menonjol daripada murid lainya?"

"Belajar adalah sebuah perjalanan: dari fakta ke pengetahuan,

ke pemahaman dan akhirnya kebijaksanaan."

Durasi : 2 JP
Moda : Video Conference

Tujuan Pembelajaran Khusus: CGP dapat mengelaborasi pemahamannya tentang pembelajaran berdiferensiasi lewat proses tanya jawab dan diskusi.

Pembelajran sampai pada sesi pembelajaran ke-5 dari 7 sesi pembelajaran di Modul Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid Melalui Pembelajaran Berdiferensiasi.

Dalam dua jam pelajaran ini, CGP bersama instruktur memiliki kesempatan untuk melakukan konferensi video. CGP menyampaikan pertanyaan-pertanyaan yang masih terkait dengan materi pembelajaran berdiferensiasi kepada fasilitator dan instruktur. CGP diberi ruang untuk menyampaikan keraguan dan persepsi tentang potensi hambatan dalam implementasi.

Refleksi hasil pertemuan elaborasi pemahaman




Minggu, 13 Agustus 2023

Ruang Kolaborasi Sesi 2 - Modul 2.1
PRESENTASI KELOMPOK
Kamis, 27 Juli 2023

Ruang Kolaborasi Modul 2.1 (Pembelajaran Untuk Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid)
Sesi 2 (Presentasi kelompok):
Kelas B : Pukul 15.15 - 17.30
Kelas A : Pukul 19.15 - 21.30

Durasi:  3 JP
Moda : Presentasi

Tujuan Pembelajaran Khusus:  CGP dapat melakukan refleksi kolaboratif untuk menganalisis implementasi pembelajaran berdiferensiasi.

CGP bersama rekan kelompok telah menganalisis implementasi pembelajaran berdiferensiasi untuk satu materi yang telah dipilih. Selanjutnya, CGP akan bertemu dengan fasilitator dalam kelompok besar dalam ruang virtual yang telah disediakan untuk mempresentasikan hasil analisis skenario implementasi pembelajaran berdiferensiasi dan saling memberikan tanggapan hasil analisa kelompok lain.

Kegiatan akan diakhiri oleh fasilitator dengan menarik kesimpulan tentang penerapan pembelajaran berdiferensiasi.


Berikut ini merupakan hasil analisis kelompok yang telah dibuat dan dipresentasikan




 

Eksplorasi Konsep - Modul 2.1


Berbagai konsekuensi dari keragaman murid yaitu antara lain guru harus mengelola pembelajaran dengan mengerti gaya belajar murid. Ada murid dengan tipe pendengar yang baik mereka senang jika diberi pelajaran yang banyak ceria dengan audio, namun ada yang memiliki tipe pelihat yang baik mereka senang dengan pembelajaran yang menampilkan gambar atau visual. Guru harus jeli mengelola pembelajaran yang dapat mengakomodir kemampuan murid. Murid tentunya memiliki latar belakang kemampuan diri dan sosial budaya yang berbeda, namun seringkali pembelajaran masih bersifat klasikal dan sama bagi mereka semua. Hal ini tentu memberangus bahkan menghalang-halangi potensi masing-masing untuk berkembang. Minat yang dimiliki murid pun juga berbeda, yang satu minat dalam bidang akademik, sementara yang lain senang dengan non akademik. Masing-masing murid juga memiliki profil dan latar belakang yang unik dengan gaya belajar audio, visual, dan kinestetik. Berdasarkan hal tersebut maka pembelajaran harus berbeda bagi murid.

Pada eksplorasi konsep ini, CGP diminta untuk mengunggah hasil belajarnya mengenai pembelajaran berdiferensiasi. Unggahan ini berupa diagram frayer.
Diagram ini dinamakan sebagai diagram Frayer karena dikembangkan pertama kali oleh Dorothy Frayer, seorang educational psychologist.

Diagram Frayer adalah pengatur grafis untuk membantu membangun pemahaman atas kosakata atau terminologi tertentu. Teknik ini menuntut seseorang untuk mendefinisikan kosakata atau terminologi yang menjadi target dan menerapkan pemahamannya dengan mengidentifikasi apa yang merupakan contoh dan bukan contoh, memberi ciri, dan/atau mendeskripsikan arti kata tersebut. Informasi ini ditempatkan pada bagan yang dibagi menjadi empat bagian untuk memberikan representasi visual.

Dalam diagram frayer ini dibahas mengenai Pembelajaran Berdiferensiasi dengan  beberapa pertanyaan sebagai berikut:

  • Apa definisi pembelajaran berdiferensiasi?
  • Apa saja ciri-ciri/karakteristik pembelajaran berdiferensiasi?
  • Contoh-contoh pembelajaran berdiferensiasi?

  • Yang bukan merupakan contoh pembelajaran berdiferensiasi?



Senin, 24 Juli 2023

 PENERAPAN BUDAYA POSITIF DI SEKOLAH

AKSI NYATA 1.4


 Oleh: Tri Adi Susanto

Peserta PGP Angkatan 8 Kelas 38 A2

 A.    Latar Belakang

Untuk mengembangkan peserta didik agar memiliki karakter kuat, sesuai profil pelajar pancasila yang dicetuskan sebagai pedoman untuk pendidikan di Indonesia, penerapan budaya positif di sekolah sangatlah penting. Dalam menciptakan budaya positif, sekolah perlu menyediakan lingkungan yang positif, nyaman dan aman agar peserta didik mampu berfikir, bertindak, dan mencipta secara merdeka, mandiri, dan bertanggungjawab. Lantas, apa itu budaya positif?

Budaya positif adalah nilai-nilai, keyakinan-keyakinan, dan kebiasaan-kebiasaan yang berpihak pada murid agar murid dapat berkembang menjadi pribadi yang kritis, penuh hormat, dan bertanggung jawab. Dalam budaya positif ada unsur disiplin positif. Diperlukan untuk meninjau ulang bentuk disiplin yang selama ini dijalankan di sekolah. Dalam menanamkan disiplin belum berdasarkan motivasi internal, di mana pembiasaan positif yang diterapkan bukan disiplin positif, namun masih menganut sistem penghargaan dan hukuman. Model disiplin yang dibangun saat ini masih banyak yang belum berpihak pada siswa. Masih banyak juga posisi kontrol guru belum sampai pada tahap manajer melainkan sebagai penghukum dan pembuat siswa merasa bersalah.

Sebagai seorang guru yang memiliki tugas sebagai pendidikan dan pengajar, tujuan kita yaitu menciptakan murid-murid yang memiliki disiplin diri sehingga mereka bisa berperilaku dengan mengacu pada nilai-nilai kebajikan universal dan memiliki motivasi internal. Murid yang memiliki disiplin diri sejatinya mampu bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya. Peran kita sebagai pendidik harus dapat menumbuhkan disiplin diri pada diri siswa sehingga siswa mampu menggali potensinya menuju kepada sebuah tujuan, sesuatu yang dihargai dan bermakna, mampu mengontrol diri, mampu menguasai diri dalam memilih tindakan yang mengacu pada nilai-nilai yang dihargai.

Harapannya, budaya positif yang sudah ada di sekolah dapat berkembang menjadi karakter semua warga sekolah. Untuk itu diperlukan kesadaran semua pendidik dalam menumbuhkembangkan budaya positif untuk mewujudkan karakter profil pelajar pancasila. Berdasarkan paparan di atas diperlukan sosialisasi dan deseminasi mengenai budaya positif sehingga para guru dapat berkolaborasi dalam menerapkan disiplin restitusi di posisi monitor dan manajer sehingga lingkungan yang positif, aman dan nyaman dapat terwujud. Selain itu, praktik baik penyusunan keyakinan kelas perlu dilakukan implementasi budaya positif sebagai aksi nyata penerapan budaya positif.

B.    B. Praktik Baik yang Diharapkan (Perencanaan)

Dalam mengimplementasikan budaya positif, harapan saya dapat melakukan kegiatan yaitu menyampaikan pembelajaran dari penerapan konsep inti dari modul budaya positif serta pemahaman mereka mengenai konsep-konsep inti dalam modul Budaya Positif, melalui praktik baik:

1.    mengimplementasikan konsep-konsep inti dalam modul Budaya Positif di lingkungan kelas, sesuai yang dibuat di tahap Koneksi Antarmateri

2.    membagikan pemahaman dan pengalaman dalam menerapkannya kepada rekan-rekan guru.

 

C.    C. Praktik Baik yang Dilakukan (Penerapan)

Prakttik baik yang dilakukan sebagai bentuk aksi nyata dapat saya deskripsikan sebagai berikut:

1.    Penyusunan Keyakinan Kelas dengan Siswa

Judul Kegiatan     :    Penyusunan Keyakinan Kelas V di SD Negeri 1 Mlowokarangtalun

Peserta                      :    Siswa Kelas V

Waktu Pelaksanaan :    Tanggal, 18 Juli 2023

Latar Belakang         :    Pembelajaran di sekolah akan berlangsung dengan baik jika didukung penerapan budaya positif. Dengan budaya positif, akan terwujud pembelajaran yang berpihak kepada siswa sehingga siswa bisa belajar dengan aman, nyaman, dan senang. Untuk mendukung terwujudnya budaya positif di sekolah perlu adanya pembentukan keyakinan kelas. Keyakinan kelas berupa nilai-nilai yang universal, mudah dipahami, dan dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Kata-kata yang digunakan mudah dipahami, bernuansa positif, dibuat agar mudah dilihat/dibaca, dipahami, diterapkan dan direfleksikan atau direnungkan secara berkala, dan dapat ditinjau ulang untuk dilakukan pengembangan, perubahan atau perbaikan. Keyakinan kelas di SD N 1 Mlowokarangtalun belum dilaksanakan untuk setiap kelas dan masih berupa peraturan/tata tertib. Oleh karena itu, perlu dilakukan pembuatan keyakinan kelas.

Tujuan            :    Secara bersama-sama siswa didampingi oleh guru dapat  merumuskan dan menyusun keyakinan kelas yang disepakati sehingga bisa diterapkan di kelas dan lingkungan sekolah.

Tolok Ukur                :   

a.     Terbentuknya keyakinan kelas oleh siswa bersama guru.

b.    Poster atau dokumen keyakinan kelas yang dipajang di kelas.

 

Lini Masa Tindakan  :   

a.     Tanya jawab dengan siswa mengenai kelas impian yang mereka inginkan.

b.    Diskusi mengenai cara/langkah untuk mencapai kelas impian mereka.

c.     Menuliskan dan menuliskan gagasan mengenai keyakinan kelas dari peraturan-peraturan sekolah

d.    Membuat simpulan dengan merumuskan keyakinan kelas mengenai ide-ide yang dikemukakan.

e.     Membuat poster/Info Grafis keyakinan kelas yang telah disusun dengan Canva dll.

f.      Refleksi kegiatan hari itu.

 

Dukungan yang dibutuhkan :    

a.     Izin/rekomendasi atasan.

b.    Dukungan dari rekan sejawat/guru untuk menerapkan praktik baik di kelas.

c.     Sarana dan prasarana kegiatan.

 

Deskripsi Kegiatan :

Kegiatan praktik baik penyusunan keyakinan kelas dimulai dengan membuat perencanaan dan meminta izin kepada atasan. Setelah dipersiapkan dengan baik sarana dan prasarana serta bahan-bahan yang dibutuhkan seperti ATK, saya menentukan waktu pelaksanaan kegiatan pembelajaran di kelas V. Pelaksanaan dilakukan pada hari Selasa, 18 Juli 2023.

Pada kegiatan ini, saya bersama murid-murid kelas V SD Negeri 1 Mlowokarangtalun melaksanakan penyusunan keyakinan kelas. Pada pelaksanaannya dihadiri oleh 34 murid. Mereka sangat antusias mengikuti pembelajaran sehingga dapat berjalan dengan baik dan sesuai perencanaan.

Dalam kegiatan ini diawali dengan ice breacking melakukan game dan dilanjutkan dengan kegiatan inti yaitu menyusun keyakinan kelas dimulai dari menempelkan berbagai peraturan di sekolah. Setelah dilakukan kegiatan menempel pos it  kemudian guru mengajak mengidentifikasi mana-mana yang sama kemudian diambil yang relevan dengan kelas. Selanjutnya, kegiatan dilanjutkan menyusun aturan yang disepakati untuk dijadikan keyakinan kelas dan ditambah yang belum ada. Keyakinan kelas yang disepakati ini nantinya akan dibuat ke dalam poster/info grafis. Pada kegiatan akhir ditutup dengan refleksi yang menanyakan kepada siswa mengenai kegiatan hari itu. Refleksi dilakukan dengan menanyakan kepada murid dengan pertanyaan sebagai berikut:

Aku hari ini belajar ….

Setelah merumuskan keyakinan kelas perasaanku ….

Sebelumnya saya berpikir bahwa keyakinan kelas dibuat oleh …, namun sekarang aku tahu bahwa keyakinan kelas disusun/dirumuskan  oleh ….

Bersama teman-taman, keyakinan kelas yang telah tersusun akan ….

 

 

Dokumentasi kegiatan:

Jalannya kegiatan penyususnan keyakinan kelas bersama siswa dapat dilihat pada link berikut: https://youtu.be/JqzatxbXNbk


 

2.    Sosialisasi Budaya Positif

Judul Kegiatan     :    Sosialisasi Budaya Positif (Pembuatan Keyakinan Kelas dan Penerapan Segitiga Restitusi) di Sekolah

Peserta                   :    Guru di SD Negeri 1 Mlowokarangtalun dan di Gugus Handayani

Waktu Pelaksanaan :    Tanggal, 22 Juli 2023

Latar Belakang     :    Pembelajaran di sekolah akan berlangsung dengan baik jika didukung penerapan budaya positif. Dengan budaya positif, akan terwujud pembelajaran yang berpihak kepada siswa sehingga siswa bisa belajar dengan aman, nyaman, dan senang. Untuk mendukung terwujudnya budaya positif di sekolah perlu adanya pembentukan keyakinan kelas dan penerapan segitiga restitusi. Di SD N 1 Mlowokarangtalun tidak semua guru paham tentang keyakinan kelas dan segitiga restitusi. Oleh karena itu, perlu dilakukan sosialisasi tentang pembuatan keyakinan kelas dan penerapan segitiga restitusi bagi para guru di SD N 1 Mlowokarangtalun.

Tujuan                      :    Tujuan dari aksi nyata adalah guru mendapatkan pemahaman mengenai keyakinan kelas dan segitiga restitusi sehingga bisa diterapkan di sekolah untuk mendukung terwujudnya budaya positif.

Tolok Ukur                :   

a.     Guru memahami konsep pembuatan keyakinan kelas dan penerapan segitiga restitusi.

b.    Adanya poster atau dokumen keyakinan kelas yang dipajang di setiap kelas.

c.     Guru mampu menerapkan segitiga restitusi saat menangani permasalahan siswa.

 

Lini Masa Tindakan  :   

a.     Membuat perencanaan kegiatan

b.    Membuat materi tentang budaya positif dalam bentuk slide Powerpoint

c.     Berkonsultasi dengan korwilcam/pengawas/kepala sekolah/guru senior untuk mendapatkan masukan mengenai materi yang sudah dibuat dan penentuan jadwal sosialisasi

d.    Bekerja sama dengan petugas sarana prasarana untuk mempersiapkan ruang presentasi

e.     Melaksanakan presentasi/sosialisasi

f.      Refleksi kegiatan.

 

Dukungan yang dibutuhkan :    

a.     Izin/rekomendasi atasan.

b.    Dukungan dari rekan sejawat/guru untuk mengikuti kegiatan deseminasi dan sosialisasi.

c.     Sarana prasarana dan petugas/rekan yang mendukung pelaksanaan sosialisasi.

 

Deskripsi Kegiatan :

Kegiatan deseminasi dan sosialisasi mengenai budaya positif di sekolah dimulai dengan membuat perencanaan dan meminta izin kepada atasan. Selanjutnya setelah dipersiapkan dengan baik bahan-bahan presentasi, saya menentukan waktu pelaksanaan dengan mencari waktu setelah kegiatan pembelajaran agar tidak mengganggu kegiatan rutin sekolah. Pelaksanaan dilakukan pada hari Sabtu, 22 Juli 2023 setelah pukul 12.00.

Pada kegiatan ini saya mengundang guru-guru SD Negeri 1 Mlowokarangtalun dan guru-guru SD Negeri 1 Jatiharjo untuk hadir dalam kegiatan tersebut. Pada pelaksanaannya dihadiri oleh dua belas guru kelas dan guru mata pelajaran. Rekan-rekan yang hadir sangat mendukung kegiatan sehingga kegiatan berjalan dengan baik dan sesuai perencanaan.

Dalam kegiatan ini diawali dengan ice breacking dan dilanjutkan dengan kegiatan inti yaitu menyampaikan penerapan budaya positif di sekolah. Pada kegiatan ini materi yang saya sampaikan meliputi: disiplin positif, teori kontrol,  lima posisi guru, hukuman-penghargaan-resistensi dan kesepakatan kelas. Pada kegiatan akhir ditutup dengan refleksi.

 

Dokumentasi kegiatan:

Jalannya kegiatan deseminasi dan sosialisasi mengenai budaya positif di sekolah ini dapat dilihat pada link berikut: https://youtu.be/6XUyGvt6qns

 



D.    D. Ide atau Gagasan yang Timbul selama Penerapan

Dalam menerapkan budaya positif di sekolah pastilah mengalami perubahan dan mengalami perkembangan. Berbagai ide atau gagasan yang timbul selama penerapan praktik baik antara lain:

1.    Dalam kegiatan ini diperlukan koordinasi dan kolaborasi antarguru di sekolah dan lintas sekolah serta melibatkan pihak luar baik akademisi maupun praktisi agar kegiatan lebih berkualitas.

2.    Untuk sekala lebih besar dalam menangani sebuah kegiatan, diperlukan persiapan lebih matang agar pelaksanaan kegiatan dapat berjalan optimal, seperti: dibentuk panitia/seksi, menyiapkan sarana dan prasarana yang lengkap.

3.    Tindak lanjut praktik baik penyusunan keyakinan di kelas dapat dilakukan dengan membuat keyakinan kelas dalam bentuk infografis/poster yang ditempatkan di kelas.

 E.     Refleksi Aksi Nyata

Setelah kegiatan praktik baik sebagai bagian dari aksi nyata ini dilaksanakan tentunya ada beberapa yang sudah terlaksana dengan baik, namun demikian ada yang belum terlaksana dengan baik.  Untuk yang sudah terlaksana dengan baik yaitu kegiatan deseminasi dan sosialisasi sudah dilaksanakan sesuai jadwal dan peserta lebih dari sepuluh orang. Untuk penyusunan keyakinan kelas sudah terlaksana dengan waktu yang relatif cukup dan aktivitas cukup baik. Murid merasa senang dilibatkan dan mereka antusias mengikuti kegiatan.

Beberapa aksi nyata yang belum terlaksana dengan baik yaitu belum adanya praktik dalam kegiatan sosialisasi ini sehingga diperlukan tindakan lebih lanjut di luar sosialisasi agar para peserta lebih dapat memahami mengenai praktik segitiga restitusi dan pembentukan keyakinan kelas. Praktik baik yang belum terlaksana tersebut dapat ditingkatkan dan dilaksanakan di lain waktu, misalnya lewat kegiatan kolektif guru di KKG. Hal ini merupakan tantangan yang harus diatasi dan diperlukan tindak lanjut dengan cara berkooordinasi dengan komunitas praktisi di luar sekolah agar berbagai praktik baik yang belum terlaksana dapat dilaksanakan secara optimal di lintas sekolah. Untuk praktik penyusunan keyakinan kelas masih ada aktivitas yang kurang yaitu menuliskan keyakikan kelas secara bergantian sehingga murid benar-benar aktiv dan mendalami dengan baik.

F.    F. Testimoni/Kesan-kesan dari Pelaksanaan Aksi Nyata

Dalam pelaksanaan praktik baik sebagai aksi nyata dari penerapan budaya positif di sekolah, berikut ini ada beberapa rangkuman testimoni atau kesan-kesan dari para guru dalam menanggapi hasil karya saya sebagai berikut:

    1. Dari Ibu Dynna Fitria Cahyono Putri, S.Pd. yang mengemukakan bahwa Karya ini sangat menginspirasi bagi saya. Saya bisa banyak belajar mengenai disiplin positif yang akan saya terapkan kepada anak didik saya.
    2. Dari Ibu Indri Haryanti, S.Pd. yang mengemukakan bahwa Karya ini begitu menginspirasi saya sebagai pendidik untuk bisa melakukan hal yang sama. Selain itu sangat bermanfaat dan terus selalu berkarya dengan ide-ide yang bisa menginspiratif.
    3. Dari Ibu Karyani, S.Pd.SD mengemukakan bahwa karya ini sangat memotivasi saya sebagai guru untuk menerapkan budaya positif khususnya di kelas saya. Selain itu, saran yang diberikan yaitu perlu dikembangkan lagi supaya lebih optimal.

Profil

Foto saya
Grobogan, Jawa Tengah, Indonesia
Saya, Tri Adi Susanto adalah seorang Kepala Sekolah di SD Negeri 1 Mlowokarangtalun Kecamatan Pulokulon Kabupaten Grobogan